Rabu, 26 Januari 2011

LIA

Begitulah namanya. Sudah lama aku ingin tahu namanya dan kalau bisa mengenal lebih jauh lagi. Aku sering melihatmu di masjid. Kadang sendiri, kadang juga dengan anak yang lebih kecil lagi. Setiap ke masjid dan aku melihatmu menata sandal, aku sering mencuri-curi pandang. Ku berdoa pada Alloh agar kami diberi kesempatan untuk bertemu pada waktu yang tepat dan agar aku bisa bermain denganmu. Setelah berhari-hari hanya bisa mencuri-curi pandang, aku tak tahan lagi, ketika keberanianku mulai muncul, kami pun berkenalan. Lia namanya. Aku meminta agar Isya dia datang lagi karena aku ingin bermain dengannya. Ternyata dia menepati janji. Dia menunggu di bawah tangga. Kami ikut sholat isya berjamaah. Selesai sholat kami saling berpandangan dengan malu-malu. Kami pun bermain bersama mengenal bentuk dan menebali garis.
Esok hari adalah hari yang aku tunggu-tungg
u. Aku sudah mempersiapkan bahan untuk pertemuan hari ini. Agar tidak terlalu malam, aku menunggu isya di masjid. Yup, Lia ada di masjid. Anak kecil yang mengaku berumur 4 tahun itu tidak sendiri, dia bersama adiknya, Bayu namanya. Seperti biasa dia menata sandal para jamaah. Hari itu ramai orang sampai isya hampir tiba, masjid masih ramai. Alhamdulillah hari ini banyak orang sembahyang di masjid. Karena terlalu sibuk melihat orang aku lupa, di mana Lia. Ternyata dia sudah pulang. Ada perasaan sedih hari itu tidak bisa bertemu dengannya. Keesokan hari dia juga tidak muncul. Lusa juga tidak ada. Perasaanku sedih dan takut. Apa yang terjadi pada pertemuan pertama itu. Apakah dia dimarahi orang tuanya karena dekat dengan seseorang atau....(cukup aku tidak boleh berprasangka buruk, tapi aku cemas).
Esok hari aku harus memberanikan diri untuk mencegatnya. Setelah sholat magrib, aku menghampirinya di dekat tangga. Kamipun tersenyum malu-malu. Begitu ada kesempatan, aku langsung mengajaknya bermain. Alhamdulillah kamipun larut dalam permainan warna, menempel bentuk dan nyanyian warna. Alhamdulillah pertemuan hari ini kami benar-benar berkesan.
Esok harinya aku menstruasi. Bisa seminggu ini tidak bertemu Lia. Hari ke lima. Kami bertemu di stasiun. Awalnya aku hanya meliriknya ketika kami berpapasan. Ternyata dia ingat, dia mundur sambil memanggilku “kakak”, jariku digandengnya, diayun-ayunkannya, sambil menanyakan kemana saja aku selama ini. Aku bilang sakit. Lalu dia berkata, bukankah jika sakit tidak boleh keluar kemana-mana tapi harus istirahat. Perkataan itu pasti juga dilontarkan pada ibunya. Aku yakin, ibunya adalah orang yang baik, (bukan seperti yang pernah dia ceritakan). Kemudian dia bilang bahwa nanti dia akan ke masjid. Sayang aku tidak datang karena aku keluar dengan temanku. Miss U Lia... ini rahasia kita ^_^.

Tidak ada komentar: