Hari itu (Januari 2011) aku terkena musibah. Gara-gara bangun kesiangan aku naik kereta pukul 07.15. Padahal biasanya aku naik yang jam 06.00. Yup, aku kecopetan. Uang yang akan aku kembalikan ke bendahara hilang. Aku merasa shock bukan karena jumlah uangnya tapi karena keteledoranku. Dan aku masih selamat dari benda tajam yang merobek tasku. Aku berpikir, mungkin uang itu bukan hakku tapi itu milik rakyat. Jadi biarlah kembali ke rakyat. Semoga uang itu digunakan untuk pendidikan oleh si pencopet.
Sore harinya aku masih trauma. Aku takut naik kereta. Tapi aku harus berani karena hanya kereta lah transportasi yang mudah dan cepat dari kos menuju kantorku. Karena keberanianku berkurang, aku kesulitan turun di UI, akhirnya aku turun di Pocin. Sambil menunggu kereta arah Jakarta, aku duduk di stasiun. Tak lama, aku di dekati anak loper koran. Aku beli lah. Sambil iseng-iseng bercerita tentang ada orang kecopetan, siapa tau dia kenal wajah-wajah si pencopet. Memang dia kenal orang-orang copet tapi dia juga tidak memberi gambaran yang jelas. Akhirnya aku alihkan pembicaraan. Kami berkenalan, dia bernama M. Rifqi. Sekolah di bangku SMP daerah cawang. Ayahnya sudah meninggal. Dia 3 bersaudara. Dia paling tua. Dia berjualan koran untuk membantu ibu dan agar tetap sekolah. Semoga itu keterangan yang jujur. Karena jika memang dia jujur, aku ingin melacak dimana sekolahnya dan bagaimana dia di sekolah. Jika memang Alloh meridhoi, izinkan salah satunya malalui hamba untuk memberikan haknya. Aku ingin ngobrol lama dengannya tapi kereta sudah tiba.
Semenjak pertemuan itu, aku ingin bertemu lagi karena ada banyak hal yang ingin aku bicarakan. Salah satunya nama sekolahnya, karena aku lupa. Sekitar dua bulan lebih aku mengajak teman SMAku Sugiani jalan-jalan di UI. Pulangnya naik “BIKUN”. Waktu di dalam bis ada anak yang menawarkan koran. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Tapi dia tetap memandangku. Sampai akhirnya sampai di stasiun UI, Sugiani bertanya, kamu kenal dengan anak loper koran itu. Aku bilang tidak, dia tadi hanya menawarkan koran dan aku geleng kepala. Sugiani bertanya lagi “Tapi kayaknya dia kenal kamu, kayaknya dia tidak hanya menawarkan tapi juga menyapamu”. Aku langsung teringat Astaghfirulloh. Iya aku kenal. Dia M. Rifqi. Aku menyesal kenapa aku bisa lupa dan tidak peka. Setelah mengantar Sugiani naik angkutan. Aku kembali ke halte stasiun UI. Dan dia tidak ada di sana. Ya Rabb ijinkan kami bertemu lagi.... miss u Rifqi....
Rabu, 26 Januari 2011
LIA
Begitulah namanya. Sudah lama aku ingin tahu namanya dan kalau bisa mengenal lebih jauh lagi. Aku sering melihatmu di masjid. Kadang sendiri, kadang juga dengan anak yang lebih kecil lagi. Setiap ke masjid dan aku melihatmu menata sandal, aku sering mencuri-curi pandang. Ku berdoa pada Alloh agar kami diberi kesempatan untuk bertemu pada waktu yang tepat dan agar aku bisa bermain denganmu. Setelah berhari-hari hanya bisa mencuri-curi pandang, aku tak tahan lagi, ketika keberanianku mulai muncul, kami pun berkenalan. Lia namanya. Aku meminta agar Isya dia datang lagi karena aku ingin bermain dengannya. Ternyata dia menepati janji. Dia menunggu di bawah tangga. Kami ikut sholat isya berjamaah. Selesai sholat kami saling berpandangan dengan malu-malu. Kami pun bermain bersama mengenal bentuk dan menebali garis.
Esok hari adalah hari yang aku tunggu-tunggu. Aku sudah mempersiapkan bahan untuk pertemuan hari ini. Agar tidak terlalu malam, aku menunggu isya di masjid. Yup, Lia ada di masjid. Anak kecil yang mengaku berumur 4 tahun itu tidak sendiri, dia bersama adiknya, Bayu namanya. Seperti biasa dia menata sandal para jamaah. Hari itu ramai orang sampai isya hampir tiba, masjid masih ramai. Alhamdulillah hari ini banyak orang sembahyang di masjid. Karena terlalu sibuk melihat orang aku lupa, di mana Lia. Ternyata dia sudah pulang. Ada perasaan sedih hari itu tidak bisa bertemu dengannya. Keesokan hari dia juga tidak muncul. Lusa juga tidak ada. Perasaanku sedih dan takut. Apa yang terjadi pada pertemuan pertama itu. Apakah dia dimarahi orang tuanya karena dekat dengan seseorang atau....(cukup aku tidak boleh berprasangka buruk, tapi aku cemas).
Esok hari aku harus memberanikan diri untuk mencegatnya. Setelah sholat magrib, aku menghampirinya di dekat tangga. Kamipun tersenyum malu-malu. Begitu ada kesempatan, aku langsung mengajaknya bermain. Alhamdulillah kamipun larut dalam permainan warna, menempel bentuk dan nyanyian warna. Alhamdulillah pertemuan hari ini kami benar-benar berkesan.

Esok hari adalah hari yang aku tunggu-tunggu. Aku sudah mempersiapkan bahan untuk pertemuan hari ini. Agar tidak terlalu malam, aku menunggu isya di masjid. Yup, Lia ada di masjid. Anak kecil yang mengaku berumur 4 tahun itu tidak sendiri, dia bersama adiknya, Bayu namanya. Seperti biasa dia menata sandal para jamaah. Hari itu ramai orang sampai isya hampir tiba, masjid masih ramai. Alhamdulillah hari ini banyak orang sembahyang di masjid. Karena terlalu sibuk melihat orang aku lupa, di mana Lia. Ternyata dia sudah pulang. Ada perasaan sedih hari itu tidak bisa bertemu dengannya. Keesokan hari dia juga tidak muncul. Lusa juga tidak ada. Perasaanku sedih dan takut. Apa yang terjadi pada pertemuan pertama itu. Apakah dia dimarahi orang tuanya karena dekat dengan seseorang atau....(cukup aku tidak boleh berprasangka buruk, tapi aku cemas).
Esok hari aku harus memberanikan diri untuk mencegatnya. Setelah sholat magrib, aku menghampirinya di dekat tangga. Kamipun tersenyum malu-malu. Begitu ada kesempatan, aku langsung mengajaknya bermain. Alhamdulillah kamipun larut dalam permainan warna, menempel bentuk dan nyanyian warna. Alhamdulillah pertemuan hari ini kami benar-benar berkesan.
Esok harinya aku menstruasi. Bisa seminggu ini tidak bertemu Lia. Hari ke lima. Kami bertemu di stasiun. Awalnya aku hanya meliriknya ketika kami berpapasan. Ternyata dia ingat, dia mundur sambil memanggilku “kakak”, jariku digandengnya, diayun-ayunkannya, sambil menanyakan kemana saja aku selama ini. Aku bilang sakit. Lalu dia berkata, bukankah jika sakit tidak boleh keluar kemana-mana tapi harus istirahat. Perkataan itu pasti juga dilontarkan pada ibunya. Aku yakin, ibunya adalah orang yang baik, (bukan seperti yang pernah dia ceritakan). Kemudian dia bilang bahwa nanti dia akan ke masjid. Sayang aku tidak datang karena aku keluar dengan temanku. Miss U Lia... ini rahasia kita ^_
^.
^.
Jumat, 26 November 2010
I'TIKAF
Setiap tahun aku dan teman SMA ku (Sugiani) selalu menyempatkan untuk i’tikaf. Pada tahun 2010, aku sudah tinggal di Jakarta sedangkan dia tinggal di Banten. Kami sama-sama masuk CPNS pada tahun yang sama. Walaupun kami tinggal di kota yang berbeda, kami berupaya untuk beri’tikaf bersama. Setelah mengatur jadwal, akhirnya kami sepakat untuk i’tikaf di dua masjid di masing-masing kota tempat kami tinggal pada minggu yang berbeda. Minggu ke dua kami sepakat beri’tikaf di Masjid Raya Banten dan minggu ke tiga di Masjid Sunda Kelapa. Pada i’tikaf yang pertama,i’tikaf itu bisa kami laksanakan dan ternyata Sugiani mengatakan jika tidak ikut untuk i’tikaf yang ke dua karena dia sudah pulang kampung. Berhubung tidak ada teman untuk i’tikaf ke dua, maka sayapun tidak i’tikaf.
Sekitar satu bulan setelah lebaran, Sugiani ada kepentingan di Jakarta. Saya pun menemaninya. Hari itu adalah hari Jumat. Tinggal satu keperluan lagi dan hari sudah sore mendekati Isya, kamipun sepakat untuk untuk sholat di Masjid Sunda Kelapa. Hari itu terlihat ramai jamaah berpakaian serba putih. Kami mengira akan ada pengajian di masjid tersebut. Sambil menunggu janjian dengan temen kos Sugiani yang dulu, kami mengamati panitia yang sedang sibuk mempersiapkan acara. Ketika mengamati itulah, tak sengaja kami melihat papan pengumuman dan Subhanalloh ternyata hari itu akan diadakan I’tikaf. Kami masih tertegun atas apa yang kami alami. Kami serasa dipertemukan pada hari itu, kami serasa diarahkan menuju masjid itu. Dan saya pun sudah membawa baju ganti (baju olah raga). Sedangkan Sugiani tentunya juga sudah membawa baju ganti karena memang dia berniat nginap di kos saya. Tapi kami kemudian merasa resah karena kami tidak membawa mukena. Lalu kami berasumsi, jika memang Alloh menggiring kita ke tempat ini untuk i’tikaf, pasti akan dipermudah juga kelengkapan itu. Dan Alhamdulillah setelah bertanya pada takmir, masjid itu menyediakan mukena. Akhirnya dengan mengucap Bismillah, kami beri’tikaf pada hari itu. Subhanalloh terima kasih ya Rob, I’tikaf yang kami rencanakan bulan kemarin, Kau ridhoi pada hari ini.
Sekitar satu bulan setelah lebaran, Sugiani ada kepentingan di Jakarta. Saya pun menemaninya. Hari itu adalah hari Jumat. Tinggal satu keperluan lagi dan hari sudah sore mendekati Isya, kamipun sepakat untuk untuk sholat di Masjid Sunda Kelapa. Hari itu terlihat ramai jamaah berpakaian serba putih. Kami mengira akan ada pengajian di masjid tersebut. Sambil menunggu janjian dengan temen kos Sugiani yang dulu, kami mengamati panitia yang sedang sibuk mempersiapkan acara. Ketika mengamati itulah, tak sengaja kami melihat papan pengumuman dan Subhanalloh ternyata hari itu akan diadakan I’tikaf. Kami masih tertegun atas apa yang kami alami. Kami serasa dipertemukan pada hari itu, kami serasa diarahkan menuju masjid itu. Dan saya pun sudah membawa baju ganti (baju olah raga). Sedangkan Sugiani tentunya juga sudah membawa baju ganti karena memang dia berniat nginap di kos saya. Tapi kami kemudian merasa resah karena kami tidak membawa mukena. Lalu kami berasumsi, jika memang Alloh menggiring kita ke tempat ini untuk i’tikaf, pasti akan dipermudah juga kelengkapan itu. Dan Alhamdulillah setelah bertanya pada takmir, masjid itu menyediakan mukena. Akhirnya dengan mengucap Bismillah, kami beri’tikaf pada hari itu. Subhanalloh terima kasih ya Rob, I’tikaf yang kami rencanakan bulan kemarin, Kau ridhoi pada hari ini.
Kamis, 23 September 2010
Belajar dari alam
ketika ku minta pada Alloh setangkai bunga segar, Ia beri ku kaktus berduri.
ku pun minta pada Nya binatang mungil nan cantik, Ia beri ku ulat berbulu.
ku sempat sedih, protes dan kecewa...
betapa tidak adilnya ini, namun kemudian, kaktus itu berbunga, sangat indah sekali.
dan ulat itu pun tumbuh dan berubah menjadi kupu-kupu yang teramat cantik...
Itulah jalan Alloh, indah pada waktunya!
Alloh tidak memberi apa yang kita harapkan,
tapi Ia memberi apa yang kita perlukan..
Kadang kita sedih, kecewa, terluka,
tapi jauh di atas segalanya Ia sedang merajut yang terbaik untuk kita.
Subhanalloh....
ku pun minta pada Nya binatang mungil nan cantik, Ia beri ku ulat berbulu.
ku sempat sedih, protes dan kecewa...
betapa tidak adilnya ini, namun kemudian, kaktus itu berbunga, sangat indah sekali.
dan ulat itu pun tumbuh dan berubah menjadi kupu-kupu yang teramat cantik...
Itulah jalan Alloh, indah pada waktunya!
Alloh tidak memberi apa yang kita harapkan,
tapi Ia memberi apa yang kita perlukan..
Kadang kita sedih, kecewa, terluka,
tapi jauh di atas segalanya Ia sedang merajut yang terbaik untuk kita.
Subhanalloh....
Kamis, 12 November 2009
aku tau Kau sayang padaku
aku ga nyangka kalo aku adalah salah satu orang yang kau beri tanda (feeling)yang luar biasa. entah ini rejeki atau cobaan. setiap aku mengurus DKP, selalu Kau permudah dari awal sampai akhir..
Jumat, 30 Oktober 2009
PEMAIN SITER YANG TERSISIHKAN

Anda pasti tau siter, ya, alat musik yang konon berasal dari negeri cina. tapi di blitar sewaktu aku masih kecil, aku pernah melihat 1 laki-laki memainkan siter dan 2 perempuan sebagai sindennya. mereka orang yang sudah tua yang mereka memainkan dengan berkeliling. setelah lulus kuliah, aku kembali ke kota dan aku masih melihat mereka walau sudah jarang. mereka masih bertiga dan terlihat lebih tua.
15 tahun sejak pertama kali aku bertemu, akhirnya aku bertemu lagi. tapi kini hanya dua. aku bertanya kemana ibu yang satunya? setiap kali ada kesempatan bertemu aku ingin mengetahui di mana beliau tinggal dan sejarah mereka. Tapi kesempatan itu berkali-kali hilang. Setiap aku mengikuti, aku selalu kehilangan jejak. Ternyata aku tahu mereka naik angkutan. Berarti rumahnya jauh dari Kota Blitar.
sampai akhirnya kesempatan bertemu itu datang lagi, kebetulan aku harus menjemput saudaraku di stasiun. Setelah tugasku selesai, aku kehilangan lagi di mana mereka...
setiap jalan aku susuri dengan terus berdoa "Ya Rabb jika memang ini rejeki kita, kumohon pertemukan kami". Di jalan yang tergolong ramai, aku melihat 2 orang tua duduk di pinggir jalan, di sebuah lapak yang masih tutup. Ya itu mereka sang pemain siter. Alhamdulillah, keadaan mendukung, aku langsung menghampiri mereka. Laki-laki pemain siter itu bernama Sanidi umurnya 85 tahun dan perempuan itu bernama Kasih 76 tahun. Sedangkan perempuan satunya sudah meninggal sekitar 3 bulan yang lalu pada usia 64 tahun. Walau mereka sudah lanjut usia tapi mereka tetap bersemangat untuk terus menggaungkan siter yang mulai punah. Dulu mereka sering pentas di daerah Turen, di gedung-gedung aula. Mereka bercerita dengan bangganya. Dari pembicaraan itu aku merasa bahwa pendengaran mereka sangat bagus hanya pengelihatan mereka yang sudah mulai berkurang bahkan pak Sanidi sudah lama tak bisa melihat. Mereka pernah berniat untuk melihat makam pak Bung Karno sekalian bermain siter, tapi salah satu petugas menyuruhnya supaya hanya lewat saja. Anak-anak muda di kampung beliau juga enggan memainkan siter karena menurut mereka, anak-anak muda itu hanya sekolah saja. tak banyak yang beliau harapkan selain terus memainkan siter, uang yang mereka peroleh dari hasil tangggapan bermain siter digunakan untuk tabungan hari kematiannya. Kelak jika mereka meninggal, mereka tidak merepotkan orang lain untuk membeli kain kafannya. Ke Kota Blitar pun tidak setiap hari mereka lakukan karena kondisi tubuh mereka, jika kondisinya menurut mereka baik, mereka akan pergi ke Blitar. Biasanya 3 hari sekali. Sungguh, mendengar beliau becerita, aku menahan tangisku. Beliau pasti tidak ingin dikasihani karena beliau bercerita sambil tersenyum. Perasaanku campur aduk, aku tak tahan lagi. Akhirnya aku berpamitan. ya Rabb, adakah yang akan memuliakannya..jagalah mereka. Semoga aku bisa menemukan rumahnya untuk paling tidak aku menjadi salah satu orang yang bisa beliau terima kedatanganku...
Jumat, 21 Agustus 2009

father hand
saat itu usianya 26 tahun. dia akhirnya menikahi seorang perempuan yang didambakannya. 1 tahun kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki yang lucu, 2 tahun kemudian lahirlah seorang bayi perempuan yang manis dan 5 tahun kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki yang imut. mereka tumbuh dengan hujan kasih sayang. tahun demi tahun, anak-anak itu tumbuh dewasa. sedangkan orang tua mereka juga bertambah usinya. ketika sang ayah berusia 51 tahun, tubuhnya mulai dihinggapi penyakit, tubuhnya makin kurus. operasi telah dijalankan namun takdir tak dapat di tolak, 3 tahun kemudian ketika usianya 54 tahun. sang ayah kembali kepada Nya. siapa yang menyangka ketika dia masih berusia 26 tahun, ketika dia sedang menempuh hidup baru dengan istri pilihannya, dan 25 tahun kemudian beliau meninggal.
lalu bagaimana dengan kita..... sudah siapkah kita bertemu denganNya. bagaimana kalo bukan 25 tahun tapi 10 tahun atau bahkan 1 detik.
Ya Rabb sampaikan salam sayang hamba pada ayah. tak kan pernah kulupakan genggaman terakhir saat itu, seperti masih kurasakan mulai dari hangat hingga dinginnya tangan ayah.
Langganan:
Postingan (Atom)